Esay untuk Beasiswa bazma Pertamina: Inilah saya bagi kelurga dan konstribusi saya untuk negara

Assalamualaikum. Haii, perkenalkan namaku dea fitri, saya lahir tepat di hari kasih sayang alias 14februari tahun 1998. Saya bertempat tinggal di sukapura, cilincing, jakarta utara. Dan sekarang, saya melanjutkan studi di Politeknik Negeri Jakarta. Saya lahir dari keluarga yang berkecukupan dulu, atau sebenarnya tidak juga. Tapi jika hanya untuk makan, pendidikan dan segala kebutuhan primer, ibu dan ayah mampu untuk mencukupi semuanya. Ibu saya bekerja menjadi salah satu buruh pabrik, dan ayah bekerja menjadi teknisi di CV yang tak terlalu besar, namun ia sudah sangat dipercaya oleh atasannya. namun, karena usianya sudah tidak muda lagi. ayah mulai sering kelelahan, dan akhirnya mengundurkan diri karena sering tidak produktif dan merasa tak enak dengan atasannya, semenjak itu, kami hanya mengandalkan penghasilan ibu yang sebenarnya tak terlalu banyak juga hanya sekitar 3.000.000/bulan. saat ayah keluar dari pekerjaannya, saat itu saya menginjak kelas 2 SMA, Oiya saya lupa. Saya anak satu-satunya di keluarga ini. Mungkin kalian berfikir. Ahh enak anak satu-satunya, orang tuanya gausah mikirin tanggungan lain, atau blablablaa, ya mungkin benar. Saya sangat bersyukur dengan itu, orangtua saya pun mungkin berfikir demikian. Itu makanya, mereka ingin menjadikan saya sebagai orang hebat, orang cerdas yang memiliki pendidikan tinggi. Walaupun cukup pas-pasan tapi saya mampu menjalani sekolah saya dengan baik sampai akhirnya lulus dari SMA. Dilema pun mulai muncul saat saya ingin lulus. Saya adalah satu-satunya harapan kedua orangtua saya. Tapi, mungkin akan berat sekali jika saya harus memaksakan untuk tetap berkuliah. karena itu, dengan penghasilan ibu yang tak terlalu besar dan harapan kedua orangtua saya yang sangat besar kepada saya, itu membuat saya tak ingin mengecewakan mereka, dan bermimpi bersekolah di Universitas Negeri. Tapi ibu saya tak mengizinkan saya berkuliah di luar kota karena menurutnya akan sangat berat diongkos, akhirnya saya hanya mencoba di universitas jakarta dari mulai Snmptn dan sbmptn qsampai ujian mandiri saya hanya berharap pada UI, UNJ, dan UPN Veteran Jakarta, namun Tuhan memiliki jalan terbaiknya, saya GAGAL. UI, UNJ atau UPNVJ saya tak lulus.Padahal, dari sejak di bangku sekolah dasar sampai di tingkat sma, saya selalu mendapatkan peringkat 10besar. Saya sempat berfikir, apa yang salah? Kenapa saya selalu gagal? Saya tak ingin membuat kedua orangtua saya kecewa dengan ekspektasi mereka yang tinggi namun kenyataannya zero Akhirnya saya mencoba ujian mandiri poltekkes dan PNJ jg saya ikuti untuk mencoba peruntungan.Saya sudah hampir putus asa. Namun, seperti Allah telah menciptakan pelangi setelah badai. Di akhir usaha akhirnya saya lolos D3-Manejemen Konstruksi PNJ. Dan D-3 Teknik Radiodiagnostik Poltekkes 2. Dan tadaaa!! Disinilah saya sekarang. Saya memilih belajar di Politeknik Negeri Jakarta, jurusan Teknik Sipil alias D3-Manejemen Konstruksi. Bukan universitas negeri yang saya inginkan memang. Tapi apa salahnya mensyukuri jalan yang telah ditunjukkan oleh Tuhan?? Saya bersyukur bisa berkuliah di sana, setidaknya saya tak harus mengecewakan kedua orangtua saya. walaupun, balik lagi ke alasan finansial orangtua saya harus berusaha lebih keras lagi untuk membiayai sekolah saya, karena UKT yang saya terima UKT-3 yaitu 4.6 juta persemester, itu jelas sangat memberatkan. Saya sudah mencoba menurunkan  UKT, namun tak ada hasil. Dan sejak awal saya memutuskan untuk PP Jakarta-Depok setiap hari agar tak memberatkan orangtua saya, 4jam setiap harinya saya habiskan hanya di perjalanan. Saya memilih KRL sebagai transportasi saya berkuliah, padahal dari rumah saya ke stasiun cukup jauh, sekitar 8km. Makanya, Itu yang membuat saya berfikir 2kali untuk ikut dalam lembaga organisasi apapun. Saya takut jika nanti nilai saya turun atau saya yang tak bisa membagi waktu. Saya takut mengecewakan kedua orangtua saya yang sudah berusaha keras membiayai kuliah saya. Saya tak pernah mau mengecewakan ibu saya, sosok superhero keluarga yang selalu saya banggakan. Dulu, saya pernah melihat ibu menatap ke sebuah rumah yang memang bagus, lalu saya pernah bilang. "Rumahnya bagus ya mak? Nanti kalo dea udah kerja dea beliin rumah kaya gitu" hehehee Aamiin YaRabb. Semoga itu bukan hanya omongan belaka ya:' itu yang menjadi semangat saya untuk terus belajar tak peduli seberapa sulit jalannya. Karena saya tak mau mengecewakan ibu yang sudah bekerja sendiriam menjadi superhero keluarga.

Dan kembali pada alasan kenapa saya mengaharapkan beasiswa ini? Karena saya mau meringankan beban ibu saya. Karena walaupun ibu tak pernah mengeluh, garis pada wajahnya serasa menjawab semua. Ibu saya tak lagi muda, tak lagi sekuat dulu. alhasil, ia sudah tak pernah lembur sehingga tidak pernah mendapat uang tambahan, sekarangpun sudah sering sakit. Dan sepertinya ia sudah cukup tercekik dengan biaya2 kuliah saya yang terbilang tidak murah. bahkan untuk membantu orangtua saya, disaat anak lain sibuk dengan rencana jalan-jalan mereka di tengah lamanya libur semesteran. Saya harus bekerja agar bisa membayar UKT semester 3 ini.
Itu sebabnya, saya mengajukan permohonan beasiswa bazma ini. Saya ingin menjadi anak yang bisa membanggakan, namun saya juga tak ingin melihat ibu saya semakin tercekik dengan segala kebutuhan kuliah yang harus dibayarkan.

Dan jika berbicara tentang  kontribusi saya untuk negara. Jujur, saya pun masih tak terlalu faham akan maksud dari kontribusi ini harus seperti apa. Tapi jika menurut Pengertian kontribusi menurut para Ahli, kontribusi adalah sesuatu yang dilakukan untuk membantu mencapai sesuatu bersama-sama dengan orang lain,atau untuk membantu membuat sesuatu yang sukses.
Menurut opini saya, tindakan dari perealisasiannya mungkin salah satunya adalah menjadi sukarelawan untuk negara? Saya selalu ingin menjadi orang yang berguna, apalagi sukarelawan untuk negara entah dalam hal apa saja. Namun, saya tak pernah cukup keberanian sehingga itu hanya sebatas angan. Namun bukan berarti tak pernah, Saya pernah sekali mengikuti kegiatan BEM yang bertemakan pengabdian. Itu dikenal dengan 'PNJ Mengajar'.

Singkat kata, kami, panitia PNJ Mengajar akan mengajar di sekolah dasar yang berada di desa yang sangat kurang selama 17hari. Tak hanya itu, setelah jam sekolah kami memberikan pengetahuan kesenian bagi siswa-siswi disana seperti bela diri,  seni musik,dan seni tari. kami juga berusaha berguna bagi masyarakat sekitar dengan memberikan kegiatan yang berguna bagi masyarakat seperti sosialisasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pembagian sembako, dan ada juga cek gula darah & asam urat gratis agar masyarakat disana mampu mengetahui sejak dini 2penyakit yang menjadi salah satu dari banyak penyakit yang mematikan tersebut.
17hari di tempat yang tak ada sinyal, tidur di kontrakan kecil beramai-ramai, hanya beralaskan tiker setiap malam selama 17hari, bahkan selalu tidur tengah malam guna evaluasi acara setiap malamnya, makan makanan yang bisa dibilang sangat seadanya karena keterbatasan biaya, mandi sehari sekali karena antrian panjang setiap pagi atau sore hari. Itu semua tak cukup membuat kami mengeluh dengan keadaan. Entah mengapa, tawa anak kecil disana, semangat mereka belajar, keluguan mereka, keramah-tamahan semua masyarakat disana, seluruh panitia yang sudah seperti keluarga serta suasana pedesaan yang selalu ditemani dengan keheningan dan ketenangan mampu membayar semua. Jujur, saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari PNJ Mengajar. Tak peduli seberapa banyak waktu atau uang yang terbuang untuk sekedar menyiapkan acara tersebut, yang sebenarnya menghabiskan waktu sekitar 2bulan, namun melihat mereka senang dengan kehadiran kami sudah menjadi bayaran atas semuanya.
Tak heran, banyak diluar sana pemuda-pemudi yang mampu menjadi sukarelawan dalam hal apapun. Karena rasa senang di terima dan rasa senang ketika melihat mereka tersenyum karena bantuan kecil yang kita berikan seperti mampu membayar lunas semuanya.
Ya,. Manusia memang makhluk sosial. Dan semoga, setelah ini. Saya mampu menjadi sukarelawan untuk negara dalam arti yang sesungguhnya!! Hidup Indonesia! Hidup rakyat Indonesia!!

salam hangat,
Dea Fitri.

Komentar